Wednesday, October 3, 2018

Merawatmu Dalam Ingatan di Sepertiga Malamku

Ada namamu di setiap doa-doaku
Tiba-tiba kau datang memecah kesunyian, tepat disaat aku sujud di atas sajadah di sepertiga malamku. Kau datang di waktu yang tidak tepat.

Setelah semua perbuatan yang telah kau lakukan. Aku kembali lagi merekatkan ingatan yang telah hancur oleh kesedihan. Aku susun satu persatu ingatan itu, aku rekatkan dengan lem rindu yang sangat rekat dan kuat. 

Sekuat-kuatnya kamu merindukan pertemuan termanis dalam hidupmu, kamu tak akan sanggup. Sebab pertemuan itu diciptakan untuk mengucapkan selamat tinggal pada waktunya.

Dan percayalah bahwa kebahagiaan diciptakan untuk menjemput kesedihan dari genangan air yang membasahi Pipi-pipi manismu.

Mengingat-ingat kembali ingatan sebagai bentuk rasa syukur atas setiap sedih yang telah berhasil terlewati. Di sudut meja sana ada satu kotak hitam pekat, sepekat kegelapan malam yang dingin ini. Di dalamnya ada sebuah surat yang pernah kau tuliskan padaku.

Tulisanmu begitu indah bagaikan ditulis oleh seorang bidadari di surga. Berulang-ulang kali kubaca, Namun tak pernah juga aku bosan membacanya, hingga kini tak terasa telah ribuan kali kubaca. Aku jadi curiga barangkali kau memang benar adalah bidadari yang menyamar sebagai manusia.

Tampak sosokmu terlukiskan dalam surat itu di khayalanku, sungguh indah memang. Semakin lama khayalan tentangmu dalam pikiranku turut memudar lalu hilang dalam asa, dalam angan, dalam harapan. Semuanya turut hilang bersama kenangan singkat yang telah kita lalui bersama selama ini.

Mentari masih sama, masih bersinar di pagi hari, terbit dari ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Tapi, diriku kini berbeda, mentari dalam ingatanku tak lagi sama. Ia begitu mendung di lapisi awan tebal kehitaman dengan segalah ingatan yang ikut menghitam.

Sedemikian pekat dan gelap ingatan ini, Janji-janji itu berbisik saling mengusik pendengaran. Tentangmu membuatku tak berdaya memaafkan perasaan. Tak berdaya melawan kekesalan. Tak berdaya dan akhirnya kau muncul lagi dalam ingatan.

Untuk apa hidup di dunia jika otak tidak di gunakan untuk merawat ingatan dengan tubuh yang mulai menua.

Buktinya, tanpamu hidup tak lagi mengasikkan seperti waktu itu, dimana pohon apel yang pernah kita tanam bersama pernah berbuah lebat menandakan aku pernah suka pada sosok wanita terindah yang kukenal.

Kau perlu tahu bahwa cinta akan lebih indah tanpa ketidakpastian, biarkan ia tumbuh seiring berjalannya waktu, biarkan ia mengalir, biarkan ia jatuh dan pada akhirnya kau sadar kau tidak salah mencintaiku.

Kau telah melepasku, biarlah karena mencintai wanita punya resiko tersendiri. Bahwa Bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab yang abadi dalam mencintaimu adalah merawatmu dalam ingatan saat kau telah mematahkan hati.

Tenang saja, meskipun begitu aku masih bisa melihat kebahagianmu dari kejauhan tempat ini.

Jika kamu punya kesempatan, mengadahlah keatas dan tataplah langit mendung nan kelabu. Dari situ aku menitipkan pesan pada angin melalui hujan yag turun, bahwa dalam hujan itu terselip tawa dan air mata yang merindukanmu dalam kejauhan.

*di tulis saat memanjatkan doa kepada Rabb agar kau selalu sehat dan bahagia di pelukannya.

Be social

Like, coment and share.
Read More