Wednesday, November 15, 2017

Kami Bukan Generasi Micin

Kedamaian dalam hidup bisa tercipta jika senantiasa kita bisa bersama dan saling bahu membahu dalam kesusahan.
"Selagi  kamu masih muda nikmati hidupmu dengan kegiatan yang bermanfaat dan mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas dan dapat menginspirasi orang banyak".

Akhir-akhir ini media sosial sempat di hebohkan dengan perbedaan anak jaman dulu dan sekarang. Kids jaman now atau orang biasa menyebutnya dengan generasi micin. Lantas apa itu micin? Micin atau vetsin adalah salah satu bahan penyedap makanan yang biasa kita temukan di penjual bakso atau di rumah sebagai penyedap rasa sayur dan makanan lainnya.

Timbul sebuah pertanyaan, ada apa dengan generasi micin?

Jikalau kita berselancar didunia maya baik itu google, instagram dan kawan-kawannya, kita bisa melihat dan menyaksikan perilaku kids jaman now. Kebanyakan dari  mereka berperilaku yang bisa kita bilang sangat jauh dari norma-norma yang berlaku di indonesia. Misalnya saja anak sekolah dasar yang tidak lagi mempunyai rasa malu untuk memposting hubungan layaknya suami-istri di media sosial facebook.

Sungguh miris negeri ini jika di biarkan terus perilaku menyimpang seperti itu. Jika dulu bertatapan muka saja dengan lawan jenis kita sudah kabur sejauh 1 kilo meter, sekarang tidak lagi, malah mendekat 1 cm dari badan. Ironisnya lagi mereka tak canggung berpelukan di depan umum dan lagi-lagi di pamerkan di semua media sosial miliknya.

Mengapa demikian? Apakah karena kebanyakan makan micin? Jawabannya salah, ini di karenakan efek negatif dari media, internet dan teknologi itu sendiri. Jika dulu kita masih jarang memegang hp, bisa kita lihat perbandingannya sekarang. 360 Derajat berbeda dengan jaman generasi tahun 90. Anak usia 3 tahun saja sudah mahir menggunakan aplikasi FB dan Instagram. Bahkan bayi yang baru lahir saja sudah punya akun instagram.

Miris yah? Siapa yang ingin kita salahkan? Pemerintah? Itu kembali lagi ke peran orang tua dalam mendidik buah hati. Bagaimana peran orang tua dalam mengajarkan anak yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai norma yang berlaku di masyarakat. Orang tua juga harus membatasi penggunaan HP bagi anak. Karena di dalam dunia kesehatan mata yang terlalu lama menatap layar HP dapat menimbulkan efek radiasi yang berkepanjangan dari cahaya layar gadget. Pada akhirnya akan membuat mata anak jadi rabun. Saya disini tidak melarang penggunaan Hp bagi anak-anak, tapi alangkah lebih bagusnya anak di berikan hp pada umur 17 tahun saja. Bukan berarti saya menolak teknologi, tidak.

Saya hanya ingin generasi indonesia kedepannya bisa berkualitas dan ikut serta memajukan bangsa ini dengan melakukan banyak kegiatan yang bernilai postif. Salah satunya ialah mengajarkan anak untuk besosialisasi sejak dini, sehingga ketika mulai memasuki dunia yang sesungguhnya ia bisa bermanfaat bagi keluarga dan orang di sekitarnya.

Lantas kegiatan apa yang harus kita lakukan? Salah satunya ialah bergabung di organisasi, salah satunya ialah masuk organisasi pers mahasiswa. Menjadi aktivis pers mahasiswa, selain harus cakap dalam melakukan reportase juga harus lihai dalam mengolah hasil reportase menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat.

4 hari yang lalu, saya, teman dan adik-adik di organisasi tempat saya belajar berkesempatan berkunjung disalah satu perusahaan berita yang cukup terkenal di sulawesi-selatan. Nama perusahaannya Harian Fajar Makassar. Di sana kami di ajar untuk melihat proses bagaimana seorang wartwan mulai dari mencari berita hingga menulis berita dan di terbitkan di media massa, seperti koran dan media online.

Sewaktu saya melakukan kunjungan media disana, saya melihat sosok pemimpin masa depan didalam raga adik-adik yang juga ikut bersama saya. Mereka baru bergabung di organisasi yang sama seperti yang  saya geluti. Tampak mereka sangat bersemangat dalam melakukan tugas reportase yang saya berikan kepada mereka. Tak tampak sama sekali rasa menyesal di wajah mereka bergabung di organisai LPM. Raut wajah bahagia serta semangat pers mahasiswa yang membara terpancarkan di depan saya, tidak nampak juga wajah-wajah generasi micin yang heboh belakangan ini.

Sesi terakhir setelah mereka melakukan semua tugas reportase, kami melakukan foto bersama. Sebanyak 27 generasi millenial yang akan memimpin bangsa ini kedepan, merekalah yang akan mengubah dan memajukan bangsa indonesia di mata dunia. Saya salut kepada mereka yang terus berjuang hingga kini. Merekalah para penulis yang akan melakukan perubahan, mereka juga yang akan mengatakan kebenaran dan menghapus segala kebatilan lewat tulisan mereka.

Karena mereka adalah 27 orang yang terdiri dari 7 pemuda dan 20 pemudi yang telah berhasil membuktikan bahwa mereka bukan generasi micin yang melakukan kegiatan negatif, tapi mereka adalah generasi millienial yang melakukan kegiatan yang positif dan akan mengubah dunia.

#kamibukangenerasimicin

Be social.

Like, coment and share!

30 comments

Yes! Semoga semakin banyak generasi muda seperti kalian ya...
Yang selalu melakukan kegiatan yang positif dan bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara.

Memang miris ngeliat anak-anak yang berperilaku negatif karena dampak teknologi. Belum waktunya mereka bererselancar di dunia maya.

Inspiratif mas
Tetap semangat ya ...

Generasi Micin atau entah itu apa namanya, perlu banget di bimbing dengan baca kisah-kisah inspiratif, kayak pengalamane njenengan ini. Lewatnya media sosial seperti ini.
Jadi gak hanya media sosial dipake buat konsumtif aja, ngeliat atau post yang gak penting.

30 persen generasi seperti mas, 70 persennya hampir bisa kitalihati mereka makan micin :(

Memang generasi sekarang waktu dan pikiran sebagian besar dihabiskan utk hal-hal yang kurang bermanfaat, namun beruntung masih ada sebagian generasi yang berpikiran ke depan atau paling tidak waktu yang ada termanfaatkan utk hal yang positif, semoga adik-adik mas Ammar selalu terkondisikan yang demikian. Perlu dorongan yang berkelanjutan tentunya

generasi miciiiiin? hahaha kalo daya generasi chiki #msgjuga
Anyway, artikel yg dalam dan bagus. Terus semangat berbagi melalui tulisan.

Salut kepada sahabat-sahabat yang tergabung di LPM. Terus berkarya untuk bangsa tercinta.

Miris memang gan anak masa kini, masih kecil gaya nya udah seperti tante-tante, om-om. Kita yang jadi tante-om aja kalah sama kids jaman noowww. Gan, btw eike kids generasi 90, bukan kids jaman knooo.

Sukses gan untuk generasi milenialnya. Maju terusss pantang layu! Keep spirit!

hahahahahah..
apa cuma aku aja yang bahkan ga peduli tentang generasi micin dan ga pernah miris dengan mereka?! bisanya sih aku cuma ketawa-ketawa aja. Mungkin kita miris karena kita kurang open sama kids zaman now kali.. jadi kita malah kayak yang justifikasi bukan malah ngerangkul tangan mereka?! sometime kita kayaknya perlu ajdi kids zaman now supaya ngerti persaan dan apa yang mereka pikirin

Iya kak aku juga heran banget sama emak2 yg membuatkan akun medsos untuk anaknya yang masih kecil bahkan bayik.. Bagus nih artikelnya, makasih ya sharenya

Amin mas, nanti bakal saya bimbing ke arah yang lebih baik

Makasih atas support dan semangatnya mas

Pantang layu, harus senantiasa di siram dengan air kehidupan

Kita harus peduli sama mereka mba. jangan di lihat lihat saja. mari kita bimbing mereka ke arah yang lebih baik. kalo mba baca tulisan saya, pasti mba akan paham. baca sampai habis. jawabannya ada d dalam yah

Gak cuman generasi jaman now aja, generasi old aja juga ada yang bisa dibilang generasi micin. Bisa jadi karena generasi old kan juga baru seneng-senengnya main gadget. Jaman generasi old masih jadi generasi jaman now duluuuuu... Gadget belum ada

Balik ke orangnya siy menurutku

Kadang mikir dan ga habis pikir kenapa jaman now itu meresahkan ya? Yang bener jadi slaah, salah jadi benar kebolak-balik tingkah lakunya. Mestinya nih anak2 'z'aman sekarang lebih patuh terhadap orangtua, rajin beribadah dan belajar dan lain2 sewajarnya, mesti banyak wirid kayaknya hehe...slm kenal yach.

Tidak ada yang salah jika generasi dulu main gadget yang penting jangan sampai gadget membuat semua pekerjaan terbengkalai. contohnya suami dan anak lapar karena istri sibuk main di medsos

artikel yang inspiratif dan bermanfaat.

Saya suka makan micin, makanan jadi tambah lezat.

Aku bingung sebenernya kenapa micon skr dijadikan kambing hitam :D. Pdhl ada penelitian pkalo micin toh sbnrnya bukan penyebab bodoh.. Anak2 alay zaman skr yg kadang tingkah polanya aneh sih, menurutku krn peran ortunya yg kurang terlibat. Anak dibiarin main gadget seharian, ga didampingi samasekali.. Trs gadget ntr yg disalahkan :p. Aku sendiri ngasih kok anakku main gadget walo mereka msh 5 dan 1.5 thn. Krn biar gimana zamannya udh teknologi gini, mereka perlu tau. Tapi jgn dibiarkan main sampe lupa waktu :)

Setuju ama kegiatan mahasiswa yg banyak terlibat di organisasi. Stdaknya ini mengajarkan mereka utk membangun network, menjalin koneksi dengan banyak orang, jd pas masuk ke dunia kerja, ga kaget lagi dengan suasana bersaing dan kerasnya :)

Mungkin karena micin pengen di hilangkan dari peredaran

Demi Tuhan Yang Menciptakan Akal. Atas Nama Ilmu Pengetahuan Berkomentarlah Sesuai Apa Yang Kamu Ketahui.
EmoticonEmoticon