Wednesday, December 6, 2017

Kenikmatan Nasi Goreng Kebahagiaan

Ternyata di dalam setiap bungkus nasi goreng menyimpan sebuah kenikmatan yang haqiqi berupa kebahagiaan jika di santap bersama teman.

Berbicara tentang kebahagiaan, siapa yang tidak ingin bahagia. Semua orang mendambakan yang namanya kebahagiaan. Tapi bagi sebagian besar orang mengatakan, bahwa kebahagiaan itu bisa di capai dengan cara mengumpulkan harta agar cepat menjadi kaya, mendapatkan jabatan agar cepat berkuasa atau tinggal di sebuah istana yang mewah dengan segala fasilitas mewahnya layaknya pangeran ala timur tengah.

Namun semua itu menurutku adalah pemahaman yang sangat keliru dalam mengiginkan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan tidak bisa di peroleh dengan cara yang demikian. Sudah banyak orang kaya punya segalanya di dunia, namun tak pernah merasa bahagia.

Dari buku yang pernah saya baca, benar yang diungkapkan oleh seorang penyair. "Saya tidak melihat kebahagiaan itu dengan mengumpulkan harta," Ungkapnya.

Kesimpulan yang bisa saya petik ialah bahwa tidak semua yang memiliki harta melimpah itu bahagia. Sudah banyak milioner di dunia yang harta kekayaannya tidak habis 7 turunan tapi masih saja di bayang-bayangi oleh penderitaan dan kegelisahan semasa hidupnya sampai ke kuburnya kelak.

Sejelek-jeleknya harta adalah harta yang tidak bisa memberikan kepuasan kepada pemiliknya. Bukan begitu? Lantas kebahagiaan itu terletak dimana.Ternyata kebahagiaan itu terletak di nasi goreng. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa nasi goreng, ada apa dengan nasi yang di goreng satu ini. 

Sebelum saya membahas nasi goreng, saya ingin menceritakan sebuah kisah tragis dari sebuah kebahagiaan. Ada yang bilang kebahagiaan itu ada pada ijazah yang kita sandang nantinya.

Seorang dokter berkata: "Ambillah ijazah-ijazah saya dan berikan pada suamiku". Coba maknai dengan seksama ungkapan seorang dokter wanita ini. Terbayangkan di dalam pikiran kalian, seorang doktor di bidang medical dalam pandangan kalian ia pasti manusia paaling bahagia.

Apalagi ia adalah wanita yang mampu menjadi doktor bukan dalam bidang yang sembarangan, tetapi dalam bidang kedokteran. Dalam pandangan sebagian orang bahwa seorang dokter adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, tentunya jenis profesi dan ijazahnya sangat bergengsi di indonesia bahkan di dunia.

Sekali lagi ini adalah sebuah pemandangan yang keliru, tapi ini adalah pandangan mayoritas orang. Seseorang yang berhasil meraih gelar doktoral di bidang kedokteran pasti hidup dalam puncak kebahagiaan.

Coba kalian baca apa yang di tulis oleh dokter ini di antara tulisannya.

"Setiap hari, pada pukul 7, waktu yang tergesa-gesa bagi saya. Air mataku bercucuran. Kenapa? Saya duduk di belakang sopir menuju klinikku, bahkan kuburanku, penjaraku,"  ia mengibaratkan kliniknya yang telah lama ia perjuangkan sebagai kuburan dan penjara.

Kemudian ia lanjutkan tulisannya:

"Saya menemukan ibu-ibu dengan anaknya menungguku. Mereka memperhatikan mantelku, seolah-olah selendang sutra dari persia. Ini pandangan orang. Akan tetapi dalam pandangan saya, ini adalah pakaian berkabungku. Saya masuk ke tempat praktekku, saya gantungkan stetoskopku, seolah-olah seutas tali mencekik leherku. Sementara bayangan gelap menghadang masa depanku,".

Terakhir ia berteriak:

"Ambillah ijazahku, ambillah mantelku, ambillah semua resepku, ambillah semua kebahagiaanku, semua hartaku tetapi perdengarkanlah padaku kata-kata mama,".

Kemudian ia mengungkapkan syair.

Dulu aku berharap di panggil dokter. Panggilan itu telah tercapai, tetapi tetap saya tidak bahagia. Maka katakanlah kepada semua yang menjadikanku contoh. Diantara orang-orang pada hari ini yang menangisi kondisinya. Semua perempuan bercita-cita di karunai anak dalam pelukannya. Mungkinkah dia membelinya dengan hartanya. Tertanda Dokter S.A.G Riyadh.

Apa yang terjadi, ternyata seorang yang mempunyai banyak harta dan jabatan pun tidak merasakan yang namanya sebuah kebahagiaan. Itu karena ia tidak bersyukur atas nikmat dan karunia yang di berikan tuhan untukknya. Manusia memang seperti itu.

Sama halnya dengan nasi goreng, ternyata kebahagiaan itu bukan terletak pada nasinya. Melainkan rasa syukur, saya masih bisa menyantap  nasi goreng bersama kawan-kawanku di organisasi. Meskipun sederhana ala kaki lima, namun rasanya bisa mengalahkan nasi goreng buatan restoran.

Kenikmatannya muncul ketika kita bisa bersyukur atas apa yang di berikan oleh tuhan hari ini, sehingga kebahagiaan itu dapat kita rasakan di dalam hati dan terpatri dalam sanubari. Walaupun lauk nasi gorengnya cuman suiran ayam kecil-kecil dan 2 potongan timun. Bahagia rasanya jika kita senantiasa bersyukur setiap harinya.

Jadi inti sebuah kebahagiaan adalah bersyukur. Jangan lupa bersyukur hari ini, walaupun itu cuman nasi goreng traktiran teman.

Be social.

Like, coment and share!
Read More