Thursday, November 30, 2017

Berpetualang di Negeri Kupu-kupu

Sebenarnya kami ada sebelas orang tapi ia tak tampak di depan kamera. Sebab ia adalah orang yang ada di  balik layar. foto ini tak akan tercipta kalo ia tak ada.
"Kupu-kupu ialah sebuah simbol dari kesempurnaan kehidupan seorang anak manusia. Lihatlah semua corak warnanya, sayapnya yang indah simetris dan seimbang. Hanya sedikit manusia yang tahu bahwa sebagai seorang manusia, ternyata kita memiliki siklus yang persis sama dengan kupu-kupu. Mulai awal Kelahiran, pertumbuhan yang telah di kuasai nafsu, kesombongan dan keegoisan. Ada juga kematian yang sementara, kemudian kebangkitan yang menakjubkan. Dari sekian banyak manusia, tak ada yang mencapai titik sebuah kesempurnaan. Kecuali orang-orang yang pernah berpetualang di negeri kupu-kupu".

Waktu itu hari masih terlalu pagi, suara burung berkicau mewarnai pagiku kala itu. Dengan secangkir teh panas dan kue buroncong kesukaanku lah yang menemani pagi cerahku di depan rumahku sambil menikmati kicauan burung yang merdu menghiasi pagi hariku.

Tapi, pagi itu semuanya agak terganggu karena aku tiba-tiba ingat ada jadwal penting yang akan ku hadiri. Rupanya jadwal itu ialah quality time bersama teman-temanku di organisasi. Hampir saja aku melupakan saat-saat itu.

Singkat cerita kami berkumpul di tempat yang sudah di janjikan. Sekitar 30 kilo meter dari rumahku, lumayan jauh, tapi karena saya sudah berjanji sejauh  apapun tempat itu akan ku jalani. Namanya  juga janji, yah harus di tepati. Kami memang sudah merencanakannya jauh-jauh hari sebelumnya. Kami akan pergi berlibur di salah satu objek wisata di Kabupaten Maros tepatnya di Bantimurung. Sengaja tempat itu kami pilih, karena katanya di sanalah penangkaran dan habitat kupu-kupu berasal.

Setelah semua teman  saya berkumpul, maka kami langsung memulai perjalanan ke negeri yang katanya negerinya kupu-kupu. Walaupun perjalanan yang kami tempuh waktu itu kurang lebih 2 jam akibat kemacetan yang sangat panjang. Tapi semua itu terbayar ketika kami semua sampai di tempat tersebut.

Suara percikan air dari sungai dan air terjun seakan membayar semua rasa lelah kami sepanjang perjalanan. Tak tunggu lama kami semua langsung menceburkan diri ke dalam sungai. Serasa hari itu semua aktivitas dan tugas perkuliahan tak sedikitpun kami ingat, karena semua tercampur dengan rasa ingin berenang di air sungai tersebut.

Tak lengkap rasanya jika pergi liburan tanpa berselfie ria. Semua tempat tak luput dari sasaran selfie teman-temanku. Meskipun sudah 6 bulan berlalu sejak hari itu, tapi banyak sekali pengalaman dan hikmah yang bisa saya dapatkan. Mulai dari kesabaran, loyalitas, kebersamaan dan ada kepuasan tersendiri di dalam hati melebihi apapun jika mengingat hari-hari itu.

Dari sekian banyak hal yang menarik pada liburan waktu itu. Ada satu binatang yang mengajarkan saya tentang sesuatu yang sangat berharga. ia adalah kupu-kupu. Mungkin banyak pembaca yang bertanya dalam hati, mengapa harus kupu-kupu? Saya jelaskan sedikit tentang kupu-kupu.

Seekor kupu-kupu sangatlah indah, terlihat elok saat di pandang dan memukau banyak  pandangan mata yang melihatnya. Padahal sebelum ia memukau mata yang melihatnya, ia hanyala seekor ulat yang terlihat buruk bahkan kita cenderung jijik dan menjauhinya. Tapi setelah mengalami perubahan menjadi kupu-kupu yang terbang indah di sekeliling kita, siapa yang tidak suka melihatnya. Bahkan sebagian  dari kita mendekatinya.

Tapi sebelum ia menjadi sangat indah di pandang, ia telah melewati beberapa tahap demi tahap kehidupannya. Dulu ia hanya seekor ulat yang merayap di batang pohon dan dedaunan dan kalo ia tak beruntung ia akan berakhir di dalam perut burung dan serangga pemangsanya.

Setelah matang menjalani kehidupan sebagai ulat, ia mulai mencari tempat yang aman untuk siap menjadi kepompong dan menggantung di atas dahan pohon. Ia tak peduli pada panas yang menyengat, badai, angin dan hujan nan lebat yang sewaktu-waktu akan membunuhnya. Ia tetap kokoh, tenang di dalam kepompongnya untuk berubah menjadi sesuatu yang indah nantinya.

Setelah itu ia lewati akhirnya keluarlah kupu-kupu dengan sayapnya nan indah yang siap terbang mencari sekuntum bunga-bunga untuk di hisap sarinya dan siap menjadi penerus untuk anak-anaknya kelak.

Itu adalah metarfosa dari kupu-kupu, dari telur ia mulai menetas menjadi ulat, dari ulat kemudian dia berproses dan menempa diri dalam kepompong dan dari kepompong  lahirlah kupu-kupu yang indah mengelokkan mata setiap yang memandangnya.

Tahap demi tahap ia jalani lintas generasi tanpa ada satu pun tahap yang ia lompati. Tak ada seekor kupu-kupu yang langsung menetas dari telur melainkan harus melewati setiap tahapan atau prosesnya.

Apa hikmanya?

Jalani setiap tahap demi tahap dalam menjalani kehidupan tanpa ada kata mengeluh. J.K Rowling penulis buku best seller Harry Potter pun bahkan tidak langsung meraih sebuah kesuksesan, kekayaan dan setenar sekarang. Bukunya dulu pernah di tolak oleh 9 penerbit.

Banyak kesusahan yang ia alamidulunya, namun ia pantang menyerah akan keadaan. Kalaupun dulu J.K Rowling menyerah dalam menerbitkan bukunya, mungkin kita tidak pernah tahu, siapa itu Harry Potter. Berkat ketekunan kerja keras dan usaha dari J.K Rowling akhirnya namanya di kenal di belahan dunia manapun.

Kalau seekor kupu-kupu dan J.K Rowling bisa melewati pahitnya dan kerasnya kehidupan. Kitapun harus bisa, karena semua berawal dari niat, ketekunan dan usaha,

Be social.

Like, coment and share.

Read More

Sunday, November 26, 2017

Anggap Pasienmu Sebagaimana Orang Yang Paling Kamu Sayangi

Saya sedang merawat gigi seorang pasien  dengan penuh keikhlasan

"Bisa melihat senyuman pasien yang terpancar dari wajahnya yang lelah akibat menahan rasa sakit usai di rawat,  membuat saya sangat bahagia. Karena kepuasan pasien terhadap pelayanan tenaga medis di instansi kesehatan  gigi adalah prioritas utama bagi saya".

Dalam merawat gigi dan mulut pasien, anggap pasien itu layaknya orang yang paling kamu sayang di dunia. Sehingga dalam merawat gigi dan mulut pasien akan muncul rasa cinta, empati, kehati-hatian selama kamu bekerja dan resiko terjadinya kecelakaan dapat terminimalisir. Karena yang kalian hadapi adalah manusia bukan motor.

Prinsip inilah yang selama ini saya pegang dan senantiasa selalu saya tanamkan di dalam hati. Sudah 2 minggu lebih saya melakukan paraktikum pada mata kuliah preventif dentistry dan konservasi gigi di klinik gigi kampus tempat saya menimba ilmu. Terhitung sudah sebanyak 6 pasien yang saya rawat giginya, mulai dari scalling hingga penambalan gigi.

Rata-rata dari pasien yang saya rawat giginya adalah orang-orang yang tidak terlalu akrab dengan saya. Bahkan tidak mempunyai hubungan darah dan keluarga. Awalnya sih saya sedikit grogi dalam melakukan tindakan medis pada pasien saya. Tapi, seiring berjalannya waktu rasa grogi itu larut dengan proses selama paraktikum berlangsung.

Pasien pertama saya adalah seorang wanita yang di kenalkan oleh teman saya yang juga wanita. Namanya sengaja tidak saya sebut, untuk menjaga privasi dari pasien karena saya punya kode etik yang tak boleh di langgar. Ia datang ke klinik gigi kampus dengan keluhan mempunyai banyak karang gigi di giginya.

Pada awalnya ia agak malu di rawat sama saya, karena saya adalah seorang laki-laki dan tidak mengenal saya. Tapi lama-kelamaan setelah saya melakukan pendekatan persuasif dan menjelaskan semua prosedur yang akan di lakukan selama proses pembersihan karang gigi, akhirnya ia mau juga di bersihkan karang giginya oleh saya.

Pertama-tama saya menyuruhnya untuk duduk di dental chair, tindakan saya selanjutnya ialah anamnese (tanya jawab seputar keluhan giginya). Setelah itu saya mulai melakukan pemeriksaan obyektitif dan mengisi seluruh format yang ada di rekam medis milik pasien saya. Lalu saya mulai menentukan diagnosa pada kesehatan gigi pasien saya. Karena jika salah diagnosa maka tindakan yang akan kita ambil juga akan salah. Maka dari itu butuh ketelitian extra dalam mendiagnosa pasien.

Setelah semua prosedur di format rekam medis selesai saya isi dan telah menentukan diagnosa, mulailah saya menbersihkan karang gigi pasien. Sebelum melakukan tindakan pertama-tama saya menganggap pasien saya adalah orang yang paling saya sayang di dunia. Ia adalah wanita yang melebihi jasa seorang guru atau pahlawan.

Yah pasti kalian semua tahu siapa yang di maksud. Ia adalah bunda saya (panggilan sayang saya kepada ibu yang telah melahirkan dan merawat saya sejak kecil). Mulanya saya membayangkan pasien tersebut adalah bunda saya, sekitar kurang lebih 3 menit saya terdiam membayangkan bunda saya terbaring di dental chair.

Akhirnya berhasil, entah kenapa pasien saya mirip bunda saya seketika, serasa ada ikatan batin antara kami. Saya mulai membersihkan karang giginya dengan sangat teliti dan hati-hati menggunakan alat ultrasonic scaller. Satu per satu giginya mulai saya bersihkan, meskipun sesekali gusinya berdarah akibat karang gigi yang sudah terlalu keras menempel di gusi dan giginya. Satu jam berlalu, akhirnya proses pembersihan karang gigi telah selesai saya kerjakan. Pasien saya langsung memegang pundak saya dan berkata "terima kasih".

Rupanya ia sangat senang giginya bisa bersih dan nafas nya bisa menjadi segar. Hati saya terasa lega, meskipun dalam proses pembersihannya agak lama. Tapi, tiap tetes keringat yang membasahi tubuh saya terbayar dengan rasa puas dari pasien.

Usaha tidak akan pernah menghianati proses, yah slogan itu mungkin yang menggambarkan suasana hatiku pada hari itu. Ia sempat meraih tangan saya dan memberi saya uang, tapi saya tolak. Saya tidak mau menerima pemberiannya karena saya sadar bahwa tugas ini lebih mulia daripada uang. Biar tuhan yang membalas semua jasa saya, karena pada awal saya memilih jurusan ini orientasi saya bukan karena uang. Melainkan keikhlasan hati yang muncul dari dalam dada saya, mungkin itu yang dinamakan nurani.

Saya juga merasa sedih jika profesi ini di jadikan sebagai sebuah lahan bisnis suatu hari nanti. Masyarakat indonesia tidaklah semua berpenghasilan sama, bagaimana nantinya jika masyarakat yang kurang mampu mempunyai masalah dengan giginya dan ingin merawat giginya, pasti mereka akan berfikir 2 kali. Untuk biaya sehari-hari saja sudah susah, apalagi kalau mau ke rumah sakit. Jika sudah demikian apa yang akan terjadi? Yang miskin akan tetap sakit dan yang kaya akan sehat. Orang miskin di larang sakit. Mungkin slogan itulah yang dapat menjabarkan orang miskin yang sedang sakit.

Saya juga punya cita-cita suatu hari nanti, dimana semua masyarakat indonesia dapat menikmati pelayanan di bidang kesehatan gigi itu secara gratis khusus bagi masyarakat yang kurang mampu secara finansial. Semoga hari itu bisa terwujudkan, karena sekali lagi saya hanya ingin melihat wajah-wajah bahagia pasien yang puas terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Be social.

Like, coment and share!
Read More

Tuesday, November 21, 2017

Mereka Adalah Sosok Jelmaan Bidadari dan Pejuang Jaman Now

Engkau adalah wanita dengan paras ayu yang berselendang pelangi di bawah hamparan gunung-gunung yang indah. Sampai jaka tarub pun takut mencuri selendangmu.

"Mereka telah membuktikan bahwa untuk menjadi sosok wanita yang tampil menarik di khalayak ramai adalah bukan karena seberapa lihai seorang wanita dalam berdandan. Tapi, yang paling utama menurut mereka ialah, bisa menjadi sosok wanita yang cerdas dan peka terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat dan mampu menawarkan sebuah solusi, bukan hanya sekedar janji".

Siapa mereka? Mereka akrab saya sapa Yoland dan inci. Sosok wanita yang sangat dibutuhkan di zaman now katanya (Sebutan yang kekinian), dimana di zaman ini internet sedang berada pada puncaknya.

Berbicara tentang Zaman sekarang, kebanyakan orang di luar sana cenderung pusing, stress, galau apabila memikirkan kouta data internetnya yang habis. Mereka juga cenderung lebih aktif berinteraksi di dunia maya ketimbang dengan dunia nyata.

Contohnya saja pada saat kita berdiskusi di media sosial facebook membahas isu yang lagi trend belakangan ini di indonesia. Ratusan dan bahkan jutaan pengguna media sosial beradu argumen antar sesama penggunaa FB. Saling menghujat, menghina dan menjatuhkan satu sama lain. Ada juga yang saling mencaci maki di media sosial tanpa ada ujung solusinya.

Tapi, realita yang di dapat di lapangan sungguh jauh dari ekspetasi. Ketika para penghujat, pencaci maki itu di pertemukan di dunia nyata, nyatanya nyali mereka tidak sebesar sewaktu di dunia maya. Nyali mereka menciut 360 derajat dan ironisnya tak dapat berbicara banyak tentang isu yang sedang di bahas. Ujung-ujungnya bagaimana, yah pasti kalian tahu, mereka cuman bisa minta maaf dan terdiam layaknya patung, berbeda dengan komentarnya yang bisa dibilang paling banyak serta kontroversial di media sosial.

Tapi dengan semua kemudahan dan kemewahan yang kita peroleh dari internet, masih ada segelintir orang yang tidak tergoda dengan hal tersebut. Ia adalah junior saya Ince dan yoland. Sekitar 4 hari yang lalu saya menugaskan mereka sebagai seorang reporter untuk meliput di salah satu kegiatan organisasi, yaitu menanam 2000 bibit pohon.

Mereka rela terjun di  tengah masyarakat desa yang bisa di katakan terpencil dan tidak ada sama sekali jaringan internet di sana. Selama 3 hari 2 malam mereka tidak bisa merasakan manisnya internet. Saya juga sempat khawatir karena tidak bisa sama sekali berkomunikasi dengan mereka berdua. Saya takut terjadi hal yang tidak di inginkan kepada 2 orang gadis yang cantik nan jelita.

Mereka juga adalah perempuan yang unik menurutku. Meskipun terkadang saya agak keras terhadap mereka berdua dan membuat mereka sedih.

Tapi, seiring proses berjalannya waktu, saya mulai paham tentang satu hal. Bahwa yang dinginkan wanita itu sederhana, mereka hanya perlu perhatian dan kasih sayang. Itu saja, sederhana namun butuh kesabaran dan perjuangan untuk memberikan semua itu.

Mungkin mereka marah pada saat ini, karena kata-kata saya yang mengatakan saya sudah bosan melihat mereka, walaupun saya bercanda mengungkapkannya.

Tapi, lewat tulisan ini saya ingin meminta maaf kepada kalian berdua, kalo saya pernah salah. Saya cuman bisa berkata "Kalian luar biasa, meskipun dengan waktu akademis kalian yang begitu padat.

Namun waktu telah membuktikan bahwa  kalian mampu mengesampingkan hal tersebut untuk turun berinteraksi di tengah masyarakat. Kalian telah melakukan tugas reportase yang sangat luar biasa menurut saya. Melaporkan setiap detik peristiwa yang terjadi selama 3 hari yang begitu indah.

Semoga dengan adanya kalian akan muncul perempuan-perempuan hebat yang lain yang bisa saling berbagi dan menginspirasi antar sesama. Kalian telah membuktikan bahwa kalian tidak hanya bersuara di media sosial, namun bisa melakukan aksi dengan langsung terjun di lapangan.

Karena kalian adalah wanita jelmaan bidadari yang telah berhasil berjuang melembutkan hati laki-laki yang kasar, bukan melemahkan yang kuat. Kalian juga sangat bersahaja, ceria sekaligus pendengar yang baik dan lawan berdiskusi yang menyenangkan. Semangat mewartakan telah terpancar didalam raga dan hatimu.

Salam jurnalistik dan sejahtera untuk kita semua.

Be social.

Like, coment and share!

Read More

Saturday, November 18, 2017

Eksis Jadi Jurnalis di Workshop Redaksi Trans 7

Waktu akan terus berlalu, tapi kenangannya tidak akan begitu saja muda untuk di lupakan, karena kenangannya akan senantiasa tinggal di dalam hati dan terpatri dalam sanubari.

"Selama 2 hari saya mengikuti workshop redaksi yang di gelar oleh Trans 7. Banyak sekali  pengalaman berharga yang bisa saya peroleh untuk di implementasikan nantinya di perjalanan hidup saya kedepannya,"


2 hari telah berlalu, masa-masa yang singkat namun terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja olehku. Banyak pengalaman yang sangat berharga yang bisa saya ambil dari kegiatan workshop ini. Mulai dari mengenal teman baru, para presenter berita yang cantik dan ganteng, sampai dengan materi jurnalistik yang terkini. Dalam kegiatan tersebut saya belajar banyak hal, rasanya meja redaksi trans 7 pindah selama 2 hari di Aula Prof.Matulladda tempat berlangsungnya acara.

Dalam kegiatan ini di isi oleh para pembicara yang bisa di katakan sangat luar biasa. Gubernur Sulawesi-Selatan, Syahrul Yasin Limpo  turut menjadi pembicara utama dalam kegiatan tersebut. Dalam pidatonya beliau sungguh berapi-api dalam memotivasi para peserta workshop redaksi.

Turut hadir juga stand up comedian yang cukup terkenal di indonesia, Zakaria namanya. Ia tampil cukup menghibur para peserta workshop. Sesekali saya tersenyum dan ketawa jika mengingat kembali penampilannya.

Di workshop redaksi yang di gelar trans 7, pelayanannya bisa di bilang sangat memuaskan. Banyak sekali ilmu yang di ajarkan untuk menjadi seorang
jurnalis profesional kekinian.

Hari pertama saya menerima materi-materi jurnalistik di antaranya, teknik penulisan berita tv, dubbing, pengambilan gambar berita, PTC dan teknik editing. Materinya menurut saya sangat bermanfaat dan yang mempersentasikan materinya sangat hebat-hebat dan tidak membuat saya merasa ngantuk.

Dari semua materi yang di sampaikan saya lebih tertarik ke materi penulisan naskah berita tv, Karena saya belum pernah menulis naskah berita untuk televisi. Dalam prakteknya awalnya saya sangat kebingungan dalam menulis naskah berita untuk tv, karena selama ini saya hanya terbiasa menulis berita untuk media cetak dan online. Namun, seiring berjalannya waktu saya mulai paham untuk menulis naskah berita di TV.

Mentor yang mengajarkan saya menulis naskah berita TV juga sangat sabar dalam menghadapi saya. Namanya kak Roland Lagonda yang juga seorang reporter dan news anchor di trans 7. Ia biasa tampil di acara Redaksi pagi, siang, sore, malam dan Selamat pagi akhir pekan.

Sebelum turun langsung meliput di lapangan kami di bagi per kelompok, nama saya ada di kelompok 11. Kelompok 11 di dalamnya terdiri dari pria dan wanita yang hebat-hebat. Sungguh sebuah keajaiban, lagi-lagi mentor kami adalah kak Roland Lagonda. Sebelum turun meliput di lapangan, kami melakukan breafing dan membagi tugas masing-masing. Ada yang menjadi produser, kordinator liputan, dubber, editing dan reporter. Saya mendapat tugas sebagai reporter. Kami mendapat tugas meliput dengan tema coklat.

Keesokan harinya kami mulai berangkat dari Aula Prof.Matuladda menuju tempat lokasi liputan. Sesampainya di lokasi liputan, kami langsung bergegas menyiapkan peralatan untuk meliput mulai awal pembuatan coklat sampai dengan proses pemasarannya.

Coklatnya cukup enak, saya di beri kesempatan untuk menikmati coklat yang sudah jadi. Saat saya mencicipi coklat tersebut, rasanya beda dari coklat kebanyakan. Rasanya ibarat saya sedang terbang di atas awan, coklatnya sampai habis 2 batang saking enaknya. Usai meliput coklat, hasil liputan kami serahkan pada bagian editing dan dubber.

Hasil editnya sangat bagus dan menarik, walaupun kami tidak dapat juara. Namun, hasil liputan kami dapat membuat tawa dan seisi aula riuh karena liputan kami menurut dewan juri, lucu tapi berkualitas. Sesi terakhir kelompok kami berfoto dengan mentor kami, serasa tak ingin berpisah dengan para mentor yang sudah dengan senang hati berbagi ilmu yang mereka miliki.

Sungguh 2 hari yang sangat berharga namun juga sangat berkualitas. Walaupun jenis profesi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan jurusan saya yaitu di bidang kesehatan gigi. Namun saya percaya suatu hari nanti, ilmu dan relasi yang saya miliki bisa berguna di dalam pekerjaan yang saya geluti nantinya.

Salam Jurnalistik.

Be social.

Like, coment and share!
Read More

Thursday, November 16, 2017

Zakaria Stand up Comedian Pecah di Workshop Redaksi Trans 7 Makassar

Foto bersama Zakaribo alias Zakaria Alias Zaka saat break Workshop Redaksi Trans 7

"Saya heran sama Universitas Hasanuddin (UNHAS) logo kampusnya ayam tapi yang di pelihara rusa," ucap Zakaria atau lebih di kenal dengan Zakaribo, sontak tawa peserta Workshop Redaksi Trans 7, pecah di iringi tepuk tagan meriah di Aula Prof.Matuladda, Kamis (16/11).

Hari ini saya menghadiri acara workshop redaksi yang di senggelarakan oleh stasiun televisi swasta yang cukup terkenal yakni Trans 7. Dalam acara tersebut diisi oleh pembawa berita yang keren dan ganteng-ganteng. Tak terkecuali oleh stand up comedian asal makassar Zakaria.

Ia pernah mengikuti ajang kompetisi stand up comedy academy yang di selanggarakan oleh di indosiar, namun sayang langkahnya harus terhenti karena telah gugur dan tidak dapat menjuarai ajang tersebut. Saya disini melihat sosok zaka sangat menarik, karena dapat menginspirasi orang banyak melalui stand up comedy melalui materi-materi yang ia kemas dengan lucu namun berkualitas.


Pria berambut kribo ini tampil stand up di depan peserta workshop dan semua kru dari Trans 7. Penampilannya cukup menghibur. Saya melihat gelak tawa dan riuh para peserta menikmati lawakan dari Zaka. Ia stand up selama kurang lebih 10 menit dan menceritakan pengalamannya sebelum terkenal sekarang ini.

Terakhir sebelum ia meninggalkan Aula ia berpesan kepada semua peserta Workshop, mumpung kita masih muda teruslah berkarya, buatlah sebanyak mungkin karyamu, jangan pernah takut gagal.

Buatlah karya sebanyak mungkin yang dapat menginspirasi dan memotivasi orang banyak.

Be social.

Like, coment and share!
Read More

Wednesday, November 15, 2017

Kami Bukan Generasi Micin

Kedamaian dalam hidup bisa tercipta jika senantiasa kita bisa bersama dan saling bahu membahu dalam kesusahan.
"Selagi  kamu masih muda nikmati hidupmu dengan kegiatan yang bermanfaat dan mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas dan dapat menginspirasi orang banyak".

Akhir-akhir ini media sosial sempat di hebohkan dengan perbedaan anak jaman dulu dan sekarang. Kids jaman now atau orang biasa menyebutnya dengan generasi micin. Lantas apa itu micin? Micin atau vetsin adalah salah satu bahan penyedap makanan yang biasa kita temukan di penjual bakso atau di rumah sebagai penyedap rasa sayur dan makanan lainnya.

Timbul sebuah pertanyaan, ada apa dengan generasi micin?

Jikalau kita berselancar didunia maya baik itu google, instagram dan kawan-kawannya, kita bisa melihat dan menyaksikan perilaku kids jaman now. Kebanyakan dari  mereka berperilaku yang bisa kita bilang sangat jauh dari norma-norma yang berlaku di indonesia. Misalnya saja anak sekolah dasar yang tidak lagi mempunyai rasa malu untuk memposting hubungan layaknya suami-istri di media sosial facebook.

Sungguh miris negeri ini jika di biarkan terus perilaku menyimpang seperti itu. Jika dulu bertatapan muka saja dengan lawan jenis kita sudah kabur sejauh 1 kilo meter, sekarang tidak lagi, malah mendekat 1 cm dari badan. Ironisnya lagi mereka tak canggung berpelukan di depan umum dan lagi-lagi di pamerkan di semua media sosial miliknya.

Mengapa demikian? Apakah karena kebanyakan makan micin? Jawabannya salah, ini di karenakan efek negatif dari media, internet dan teknologi itu sendiri. Jika dulu kita masih jarang memegang hp, bisa kita lihat perbandingannya sekarang. 360 Derajat berbeda dengan jaman generasi tahun 90. Anak usia 3 tahun saja sudah mahir menggunakan aplikasi FB dan Instagram. Bahkan bayi yang baru lahir saja sudah punya akun instagram.

Miris yah? Siapa yang ingin kita salahkan? Pemerintah? Itu kembali lagi ke peran orang tua dalam mendidik buah hati. Bagaimana peran orang tua dalam mengajarkan anak yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai norma yang berlaku di masyarakat. Orang tua juga harus membatasi penggunaan HP bagi anak. Karena di dalam dunia kesehatan mata yang terlalu lama menatap layar HP dapat menimbulkan efek radiasi yang berkepanjangan dari cahaya layar gadget. Pada akhirnya akan membuat mata anak jadi rabun. Saya disini tidak melarang penggunaan Hp bagi anak-anak, tapi alangkah lebih bagusnya anak di berikan hp pada umur 17 tahun saja. Bukan berarti saya menolak teknologi, tidak.

Saya hanya ingin generasi indonesia kedepannya bisa berkualitas dan ikut serta memajukan bangsa ini dengan melakukan banyak kegiatan yang bernilai postif. Salah satunya ialah mengajarkan anak untuk besosialisasi sejak dini, sehingga ketika mulai memasuki dunia yang sesungguhnya ia bisa bermanfaat bagi keluarga dan orang di sekitarnya.

Lantas kegiatan apa yang harus kita lakukan? Salah satunya ialah bergabung di organisasi, salah satunya ialah masuk organisasi pers mahasiswa. Menjadi aktivis pers mahasiswa, selain harus cakap dalam melakukan reportase juga harus lihai dalam mengolah hasil reportase menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat.

4 hari yang lalu, saya, teman dan adik-adik di organisasi tempat saya belajar berkesempatan berkunjung disalah satu perusahaan berita yang cukup terkenal di sulawesi-selatan. Nama perusahaannya Harian Fajar Makassar. Di sana kami di ajar untuk melihat proses bagaimana seorang wartwan mulai dari mencari berita hingga menulis berita dan di terbitkan di media massa, seperti koran dan media online.

Sewaktu saya melakukan kunjungan media disana, saya melihat sosok pemimpin masa depan didalam raga adik-adik yang juga ikut bersama saya. Mereka baru bergabung di organisasi yang sama seperti yang  saya geluti. Tampak mereka sangat bersemangat dalam melakukan tugas reportase yang saya berikan kepada mereka. Tak tampak sama sekali rasa menyesal di wajah mereka bergabung di organisai LPM. Raut wajah bahagia serta semangat pers mahasiswa yang membara terpancarkan di depan saya, tidak nampak juga wajah-wajah generasi micin yang heboh belakangan ini.

Sesi terakhir setelah mereka melakukan semua tugas reportase, kami melakukan foto bersama. Sebanyak 27 generasi millenial yang akan memimpin bangsa ini kedepan, merekalah yang akan mengubah dan memajukan bangsa indonesia di mata dunia. Saya salut kepada mereka yang terus berjuang hingga kini. Merekalah para penulis yang akan melakukan perubahan, mereka juga yang akan mengatakan kebenaran dan menghapus segala kebatilan lewat tulisan mereka.

Karena mereka adalah 27 orang yang terdiri dari 7 pemuda dan 20 pemudi yang telah berhasil membuktikan bahwa mereka bukan generasi micin yang melakukan kegiatan negatif, tapi mereka adalah generasi millienial yang melakukan kegiatan yang positif dan akan mengubah dunia.

#kamibukangenerasimicin

Be social.

Like, coment and share!
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Menulis Hari ni, Abadi Selamanya

Aku ketikkan setiap huruf  di gadgetku yang setia menemaniku dalam hari-hariku

"Berikan aku pena maka akan kuabadikan seluruh peristiwa hari ini dan esok. Agar, kelak anak cucu kita tahu kebenaran yang sesungguhnya terjadi tentang hal-hal yang masih menjadi misteri di dunia ini".

Apa kareba! kali ini saya menyapa para pembaca dengan bahasa makassar yang masih tetap setia membaca setiap tulisan-tulisaan saya. apa kabar kalian semua, dari sabang sampai merauke, para muda-mudi dan para generasi millenial dimanapun kalian berada. Kali ini saya menulis tentang pengalaman saya selama 3 hari ini menjadi salah satu yang di beri amanah untuk menjalankan salah satu program kerja saya di organisasi. Saya menjadi panitia di dalam Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) Angkatan 7.

Acaranya sukses, walaupun tiga hari saya tidak pernah merasakan  dingin dan hangatnya aliran air yang mengalir di tubuhku. Hanya parfum untuk sementaram menggantikan air yang ku semprotkan berulang-ulang ketubuhku, agar bau badan yang menyengat bisa tersamarkan dengan wanginya parfum. Walaupun saya tidak mandi, sebagai mahasiswa yang menimbah ilmu di bidang kesehatan gigi, saya tidak lupa menggosok gigi 2 kali sehari. Agar gigi saya tidak kuning, sekuning emas 24 karat.

Selama 3 hari tersebut banyak pengalaman berharga yang saya bisa tulis hari ini, agar nantinya tulisan saya menjadi sebuah sejarah yang sangat berharga yang bisa menginspirasi para pembaca. Pada saat hari kedua diklat saya bertemu dengan wartawan senior yang juga membawakan materi teknik wawancara dan reportase pada kegiatan tersebut. Namanya kak Suryani Echa Panca, akrab di sapa echa. Perempuan kelahiran bulukumba ini sudah sangat lama terjun didunia jurnalistik. Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, sudah tidak di ragukan lagi keahliannya di bidang jurnalistik. Sangat jarang perempuan yang menekuni profesi sebagai seorang jurnalis.

Saya sangat kagum sama beliau, sebelum dia mulai membawakan materi, saya berkesempatan untuk sharing dan bercerita bersamanya seputar dunia tulis menulis. Ia menceritakan pengalamannya sebelum jadi jurnalis seperti sekarang  Dulu waktu masih menjadi mahasiswi, ia juga seorang aktivis pers mahasiswa sama seperti saya. Dia bercerita selama masih kuliah dulu, ia sangat aktiv dalam kegiatan jurnalistik di lembaga pers mahasiswa tempatnya berproses. Ia pernah menulis berita tentang salah satu dosen yang ada di kampusnya yang memproduksi skripsi bagi mahasiswa. Sontak saja, ternyata tulisan yang ia terbitkan membuat gempar seisi kampus, tak terkecuali dosennya. Rupanya dosen tersebut tersinggung dan sangat tidak suka padanya.

"Setelah saya menulis berita itu, saya langsung di beri nilai E pada saat ujian final, dari semua mahasiswa di kelas saya yang mengikuti ujian hanya saya yang mendapatkan nilai error. Meskipun didalam tulisan saya tidak mencatut nama dosen yang dimaksud, rupanya dia tersinggung akan berita yang saya tulis," ungkap kak echa saat bercerita, disela-sela menanti dirinya membawakan materi.

Sungguh pengalaman yang sangat menarik yang bisa saya ambil dan petik  dari pengalamannya, walaupun ia adalah seorang perempuan, akan tetapi didalam dirinya saya melihat sosok kartini. Siapa yang tak kenal kartini yang telah memperjuang emansipasi wanita, sehingga perempuan bisa merasakan pendidikan seperti sekarang. Tulisan-tulisan kak echa ibarat pelita di dalam gelapnya malam, sebagai cahaya yang menerangi pekatnya malam.

Artinya katakanlah kebenaran walaupun pahit untuk mengatakannya. Ia mengatakan kebenaran lewat tulisan, supaya bisa menginspirasi orang banyak dengan tulisan yang ia buat agar ada efek jera bagi pelaku agar tidak mengulangi lagi kesalahannya.

Sebelum mengakhiri percakapannya denganku, ia berpesan kepada saya agar senantiasa berani dalam menulis kebenaran. Jangan pernah takut katanya dalam menulis selagi kita benar, karena yang perlu di takuti hanya tuhan semata. Karena sesudah kesulitan akan muncul kemudahan.

Tetap semangat dalam menulis, karena seorang penulis adalah yang mencatat peristiwa hari ini dan akan menjadi sebuah sejarah kelak di suatu hari. Nantinya tulisan kita akan tetap dinikmati lintas generasi.

Mungkin sekarang kita bisa tahu bahwa bapak revolusioner indonesia adalah Soekarno. Itu berkat siapa? Tentunya itu berkat tangan, telinga dan mata penulis yang mengabadikan peristiwa di tahun 1945 dan tetap masih terkenang di dalam ingatan kita sekarang di tahun 2017 dan selama dunia ini masih ada.

Jadi, tentukan diri kalian sekarang, mau jadi sekedar penikmat sejarah atau ambil bagian menjadi salah satu pelaku sejarah nantinya. Itu ada di tangan kalian mulai dari sekarang.

See you next time, di tulisan saya selanjutnya.

Be Social.

Like, coment and share!
Read More

Monday, November 6, 2017

Manajemen waktu yang katanya sulit.

Sedang menatap masa depan yang katanya bisa di tatap.
Akhir-akhir ini saya jadi jarang aktif menulis dan memposting lagi. Alasannya sederhana, karena saya di dera dengan kesibukan yang sangat padat. Berbagai kegiatan saya geluti selama ini, mulai dari menjalani perkuliahan, menjadi seorang aktivis pers mahasiswa sampai dengan bekerja di salah satu klinik dokter gigi di kota Makassar. 

Memang sedikit menguras waktu, tenaga dan pikiran. Kali ini, saya harus melebihi sosok superhero. Siapa lagi kalo bukan superman, karakter manusia super dari serial komik marvel dan terkenal di belahan dunia manapun. Filmnya pun sangat di gandrungi mulai dari tua sampai dewasa. Superman adalah manusia super yang kuat, tahan banting dan tidak mengenal kata lelah dalam menumpas kejahatan. Tapi terlepas dari semua itu, saya bukanlah superman. Saya tetaplah seorang manusia biasa dari golongan biasa yang kadang lelah dengan segala macam pekerjaan yang kulakoni selama ini. 

Berbicara tentang manajemen waktu. Bukanlah perkarah yang mudah. Memang mudah di lafalkan. Tapi, agak berat untuk di implementasikan. Banyak yang sering menasehati saya soal perkara ini. Mulai dari dosen, teman, kerabat dan bahkan senior saya di organisasi. 

Manejemen waktu bagi setiap orang adalah cara yang sangat efektif dan efisien dalam mengontrol sekaligus menghemat waktu yang ia miliki. 

Kalian Pernah dengar bahwa waktu adalah uang. Pertama kali saya mendengar kata-kata ini waktu ini, saya masih duduk di bangku SMP kelas 1. Awalnya saya tidak percaya. Tapi, lambat laun saya mulai percaya. Ada pengalaman lucu yang saya pernah alami. 

Waktu itu, saya sangat butuh uang untuk membeli tamiyah yang trend pada jaman ku. Just for you information, tamiyah adalah jenis mobil-mobilan yang pada waktu itu ada serial filmnya di salah satu stasiun televisi swasta. Filmnya laris manis, sehingga dipasaran mobil tamiyah laku keras. 

Singkat cerita, saya meminta uang kepada bunda saya (panggilan sayang kepada ibu tercinta yang telah melahirkan saya). 

"Bunda kasihka uang, mauka beli tamiyah," ucapku polos padanya. 

"Kalo mau uang kerja nak, itu ada pohon pisang di belakang rumah, sudah kuning mi pisangnya. Tebangmi baru kau jual di pasar," imbuhnya padaku. 

Lantas aku begegas ke belakang rumah menengok pohon pisang yang dimaksud. Ternyata ada sebagian dari buahnya yang sudah di makan kelelawar. Buah pisangnya pun sudah berwarna kekuning-kuningan pertanda sudah mulai matang. Kebetulan pada waktu itu bertepatan dengan jadwal pertandingan futsal, saya masih ingat waktu itu HUT 17 Agustus. Lantas saya mengurungkan niat untuk menebang pohon pisang tersebut, dan langsung ke lapangan bermain futsal. 

Singkat cerita, saya masih ingat betul kejadian ini. Dimana lucunya? Yah, sekitar 8 hari berlalu setelah hari itu, seperti ada yang megganjal di hati dan fikiranku. Saya lagi berbaring di ranjang tua dan sesekali berderit ketika adanya  gerakan, aku mulai berfikir dan seketika itu aku langsung ingat dan saya  langsung lompat dari ranjang setinggi kurang lebih satu meter dan bergegas ke belakang rumahku, dan betapa kagetnya saya, ketika melihat hanya tersisa 1 buah pisang yang di tinggalkan oleh kelelawar sialan itu. Marah, sedih, kecewa bercampur satu di dalam hatiku. Betapa tidak, aku tidak dapat uang untuk membeli tamiyah kesukaanku. Timbul rasa penyesalan di hati seakan ingin mengulang dari awal lagi. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Yah,  mau tidak mau di jalani jalannya waktu. 

Itulah pentingnya manajemen waktu. Coba ketika hari itu saya mencatat atau menjadwalkan kegiatan saya, kejadian seperti itu tidak akan terjadi. Kelelawarnya juga agak rakus ha ha ha. 

Jadi intinya ialah jangan pernah sia-siakan waktu, karena waktu tidak dapat di putar ulang, layaknya jarum jam yang dapat kita putar ke manapun. Waktu juga sangatlah berharga karena setiap detik dari waktu adalah uang. So, manajemenkan setiap kegiatan kalian, jangan sampai kejadian seperti penulis alami sama dengan kalian suatu saat nanti atau bahkan bisa lebih fatal.

Gunakan waktumu selagi masih sempat menggunakannya. 

Be social. 

Like, coment and share! 
Read More