Tuesday, February 21, 2017

Generasi Instan Mahasiswa Kekinian ?

Yang instan memang menyenangkan, tapi jangan bergantung pada sesuatu yang instan
Yang instan memang banyak dan beragam. Mulai dari makanan akhir bulan anak kos yakni mie, ikan sarden yang di kalengkan, sampai akhirnya bumbu makanan pun di jaman era modern ini, orang tidak usah repot-repot menyiapkan cabe, lengkuas dan rempah rempah lainnya untuk membuat rendang, opor ayam, nasi goreng, coto makassar kesukaan saya.  Cukup beli saja bumbu kemasan berbentuk sachet, buka, gunting lalu campurkan ke bahan makanan pokok tadi, panaskan api dan tinggal klik kompor, selesai kawan sekalian. Betapa mudahnya kan.

Bahkan pada saat tanggal tua seperti inipun, ketika saya mau makan coto makassar kesukaan saya, tidak perlu repot-repot merogoh kocek yang lebih dalam, cukup dengan uang RP 2000, saya dengan muda mendapatkan makanan favorit saya itu, tentu dalam keadaan sachet, yah betul, yakni mie coto makassar pun bisa saya makan dengan lahap dengan nikmat di tanggal tua ini.

Mungkin karena memang gampang dan menghemat waktu dan biaya, bangsa kita jadi biasa dan terbiasa dengan pola-pola instan seperti ini. Masyarakat kita menjadi pelit menggunakan sedikit nalar mereka untuk berfikir, jadi kikir pula soal penggunaan tenaga mereka untuk bekerja lebih banyak.

Saya jadi miris dan meyesalkan hal ini. Lebih lanjut lagi, pola hidup serba instan ini menyebabkan dampak yang lebih parah, bukan hanya sebatas pada kebiasaan dan perilaku penggunaan, tapi lebih kepada perubahan kepribadian bangsa. Yang sayangnya, saya temukan di kalangan teman teman saya sesama mahasiswa.

Beberapa bulan yang lalu, nomor hp saya di cantumkan menjadi salah satu cp di dalam sebuah pendaftaran organisasi yang saya geluti. Sederhana kerjanya: menjawab pertanyaan. Tapi ternyata tak sesederhana itu.

Beberapa bertanya "kak, besok terakhir yah waktu pendaftarannya " Saya bilang,"Lihat web nya."

Adik ini bertanya lagi,"Kan kakak sudah tahu? kasih tahu saya kak? Malas ka buka webnya.."(bukan cuman satu atau dua orang yang bertanya seperti ini)

Ada lagi yang bertanya ,"Kak bisaji pakai baju kemeja?",saya jawab,"Semuanya sudah tercantum di web silahkan di baca!" Dia jawab sudahmi kak.

Hah? Jadi untuk apa lagi bertanya? Ternyata si adik ini menanyakan hal yang serupa kepada teman saya di organisasi. Dengan tujuan guna mendapatkan jawaban ya. Hanya ingin menguatkan argumentasi dan pembenaran yang ia harapkan.

Saya jadi ngeri dan takut membayangkan generasi macam apa yang akan lahir dari rahim 2017 ini manakala pertanyaan yang berkisar seperti yang saya sebutkan di atas. Saya takut bangsa kita akan jadi bangsa yang mandul dalam melahirkan karya-karya monumental yang bercita rasa tinggi. Bukan karya yang hanya menginginkan pengakuan dari meseum rekor, tapi kemudian hilang pengaruhnya bagi bangsa ini selain melahiarkan budaya konsumtif yang kian merajai panggung demokrasi.

Mau mengeluhkan nasib bangsa ini dan menyalahkan generasi instan pada siapa rasanya juga tak akan berefek apapun. Nyatanya lahirnya generasi instan ini telah di motori juga oleh orang-orang yang mengaku aktivis. Sebut saja aksi. Seringkali terjadi, saat mimbar-mimbar ilmiah hilang suaranya, kajian kontemporer sunyi pengikutnya. Mendadak uandangan aksi menghampiri. Ramai lalu gempar layaknya hanya mencari sensasi.

Kita jadi kehilangan nilai sakral sebuah aksi hanya ketidakpahaman kita soal isu yang hendak kita angkat ke jalan. Lalu aksi hanya jadi sekadar luapan emosi tanpa rumusan "tuntutan" dan "solusi" yang jelas. Peserta aksi? Kadang mereka pun tak mengerti, yang penting hafal lirik mars mahasiswa, darah juang, selesai semua urusan.

Generasi instan ternyata bisa lahir juga dari insan-insan cendekia yang kritis dan "katanya" diharapkan. Sekali lagi saya bertanya: Buat apa?
Kritik mendasar pada gerakan mahasiswa adalah ekspresi reaksionernya pada berbagai isu. Bentuk reaksioner ini mengindentifikasikan bahwa gerakan itu tidak memiliki agenda atau termakan oleh agenda orang lain. Gerakan mahasiswa bukanlah alat pikul politik yang di sibukkan mencari musuh dan bergerak sabagai watch dog. 

Gerakan mahasiswa adalah aset masa depan, Maka ia harus memiliki rencana masa depan bangsanya kelak ia pun ikut andil dalam proses kepemimpinan bangsa ini.

Saya miris melihat keadaan organisasi mahasiswa sekarang , saya hanya melihat mereka hanya untuk pamer dan terlihat siapa yang lebih keren memakai jaket atau pdh yang bertuliskan organisasi mereka yang muncul penuh semangat dan gelora hanya di awalnya saja, tapi kemudian mereka berguguran seperti daun yang jatuh dari pohonnya di akhir, dan dengan rasa peracaya dirinya mereka berkata "apapun yang terjadi saya akan terus di lembaga ini saya tidak akan pernah keluar, hidup mahasiswa" tapi nyatanya itu hanyalah sekadar ucapan yang keluar dari mulut, toh buktinya itu cuman janji, rapat pun tidak pernah datang entah hilang kemana seolah mereka telah di telan bumi. Dan saya cuman berkata oh ! bulshitt . Katanya aktivis rapat saja tidak pernah hadir.

Sering saya bertindak di luar batas, menghina dan mengkritik lembaga sendiri, meski cuman di tanggapi dengan senyuman. Saya sadar bahwa sejatinya tugas kita adalah menyalakan lampu bukan mematikannya dan temenung dalam kegelapan, Karena itu saya pantang untuk diam.

Menjaga lisan dan ucapan adalah sesuatu yang baik. Tapi siapa yang mau memdengar dan tuntutan dari mahasiswa "biasa" kalau di awal para aktivis sendiri menaruh jarak luar biasa lebar dengan mengatakan bahwa mahasiswa yang tidak berorganisasi adalah mahasiswa yang apatis, tanpa berkaca bahwa kebanayakan dari kita pun adalah generasi-generasi instan yang bukan hanya apatis, tapi juaga curang dan bermental si kancil.

Semestinya kritik dan koreksi itu lahir dari pribadi-pribadi yang banyak belajar, banyak tahu, banyak mendengar, banyak bertanya, yang katanya mau mengabdi ke masyarakat. Agaknya barang instan ini menjadi ancaman yang kian mengkhawatirkan. 

Ketika semua orang berharap mendapat sesuatu dengan kilat, cepat hingga melupakan subtansi yang pada dasarnya jauh lebih bermakna. Yang saya khawatirkan adalah ketika pada akhirnya, orang-orang begitu terlena pada masa-masa kejayaan mahasiswa dulu hingga lupa bahwa tantangan hari ini berbeda dan tak seromantis zaman-zaman lalu yang sudah di makan usia.

Saya sadar, saya bukanlah orang dengan segudang keahlian meskipun saya yakin bahwa Allah menciptakan saya dalam keadaan sebaik-baiknya sehingga saya tidak boleh sekalipun menyalahkan siapapun atas apa yang tak saya miliki.

Saya iri pada mereka yang memiliki suara lantang, dan berwibawa, postur badan yang tinggi tegap, serta karisma yang terpancar bahkan sebelum mereka bicara. Tapi itu bukanlah tindakan orang makassar. Karena nenek moyang orang makassar dahulu adalah orang-orang yang pantang mengeluhkan keadaan, pantang baginya mencerca diri. Karena sejatinya, seseorang yang bisa menghargai dan menghormati segala apa yang ada pada dirinya adalah orang yang bisa menghargai orang lain.

Meski saya orang yang skeptis, saya bersyukur. Masih ada orang-orang seperti kalian. Meski dengan segala kritik dan caci maki, jangan pernah mundur, tetap berada pada garis perjuangan.

Jadilah pelopor untuk diri sendiri dan orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
Jangan mau jadi generasi instan yang bergerak hanya ikut-ikutan, raihlah kepahaman dan capailah ilmu pengetahuan yang setinggi tinginya.

Be social.

Like, coment and share.

56 comments

Suka sekali dengan kata-kata ini "Jangan mau jadi generasi instan yang bergerak hanya ikut-ikutan, raihlah kepahaman dan capailah ilmu pengetahuan yang setinggi tinginya."

Mahasiswa butuh Anda sebagai pacuan yang paling depan agar mereka patuh sehingga paham akan identitasnya!

Tulisannya bagus mas. Ayo dilanjutin lagi nulisnya !

Yang penting jodoh jangan sampai instan.

kalo terbiasa dengan yang instan, mungkin enggan untuk melalui apa itu perjuangan hehe

Blogger makasar kayaknya nih. Salam kenal.
Mugi2 tetap istiqamah sma mindsetnya. Indonesia butuh yg begini.

Amin.. dan salam balik dari makassar.

Bukan cuman sekedar retorika belaka mereka perlu aksi nyata.

Hasil tidak akan pernah menghianati sebuah proses

Setuju, banyak sekali mahasiswa yg mau instan saja, informasi di web kampus saja malas buka, enak nanya, hadeuuuhh 🤔🤔🤔

hidup serba instan kayak masak mie goreng g sampek 5 menit
#ehh

Sangat memotivasi sekali, ijin bookmark untuk dibaca berulang ulang sambil nunggu artikel terbaru lainnya.

obat amandel bengkak

wkwkwk hampir satu pemikiran kita, mas. malah aku salah satu mahasiswa yang banyak keluar dari ukm hahaha pemikiran terlambat.

Terkadang ada hal-hal yg boleh dilakukan secara praktis, tapi jangan membuat semua pekerjaan itu dilakukan dengan praktis, ingat semua orang hebat perlu proses untuk membuatnya menjadi sukses

Kalo cuman mau gabung ke organisasi cuman sekedar ikut ikutan lebih baik jangan, karena pasti di akhir akan keluar juga , bayangkan sudah berapa banyak biaya dan tenaga yg keluar walau pada akhirnya otu sia sia.

orang Makasih? Pikiran saya langsung ke Sultan Hasanuddin, si Ayam Jantan dari Timur
tapi emang miris lihat anak2 mhsw sekarang, duh dek.

Memang byk yg instan. Belum lagi di dunia kerja, yg instan2 bisa2 ditendang. Hidup memang berproses ya :)

Tadi sebelum baca tulisan ini, saya sempat sedih dan berputus asa (serius),,,nggak tau kenapa,, saya juga sering skeptis seperti kamu, sering juga berpikir malas. Malas nulis, malas ngeblog, suka iri sama yang instan-instan. Bayangkan kita yang nulis artikel capek-capek, harus kerja keras biar dapat pengunjung dan pengikut, tapi di luar sana, banyak orang yang dengan instannya copy paste, dalam waktu sekejab saja sudah meraup untung banyak.
Tapi setelah baca tulisan ini, saya jadi berpikir kembali, semua butuh proses dan usaha yang nggak sedikit. Thanks ya sudah menginspirasi... bagus sekali tulisannya,,,

Yang paling penting punya hardskill dan softskill yang mumpuni di jamin anda tdk akan kalah bersaing di luar sana

Wow banget tulisannya... Ahhh zaman serba mudah kaya gini bukannya ngasih nilai positif, malah banyak yang kejerumus. Yah akhirnya apa.. gini kan kondisinya...

Aku juga kadang suka nyesek sndiri kalau ada mahasiswa yg gbung ke organisasi cma pengen ngedomplang popularitas doang.. pas wawancara aja uhh jawabannya mantep tpi pas diterima yah aksinya yg ngempeng... Huhuhu

iyaahhh,, kebanyakan emang gitu

gausah jauh2 keponakan aku kalo ngerjai pe er belom dicari di buku paket ato rangkuman materi uda nanya duluan, kalo disruh nyari dulu jawabnya kenceng banget "ga da" beeeee. aku dulu ngerjai pe er yaaa sendirian nyari jawaban kesana kemari, belom bisa googling kayak sekarang.

btw aku juga ikut komunitas gitu dulu pernah, anggota lainnya kebanyakn mahasiswa juga, tappi ya gitu kayak tergantung temen. msialnya pas ada regular meeting, kalo geng-nya gadateng semua jadi gadateng.

Saya juga suka instan, terutama mi, apalagi kalau ditambak telur, bakso dan kol. Sedap dan maunya nambah lagi :)

Untungnya saya bukan generasi instan dan berdoa semoga anak sayapun bukan termasuk generasi mengerikan ini. Semua kembali ke orangnya sih, bagaimana kita menerima didikan terutama dari ortu. Kalau anak terbiasa dimanja dan apa-apa langsung ada, mereka ga mau usaha ketika dewasa. * Duh, ini sih curhat saya :(

Jangan lihat buku dari sampuly, lihat isinya

Organisasi dan komunitas itu berbeda.

Harus dibiasakan memang sejak kecil, apapun yang ingin diketahui, ya cari tau dulu. Kalau masih bingung ya baru nanya. :)

Memang benar banyak yang melakukan hak-hal yang instan, padahal sesungguhnya yang instan itu tidak kekal, jadi diri sendiri itu akan lebih enjoy. Thank tulisan anda jadi motivasi.

dapet instan, ilangpun juga instan!

Jangan ikutan jadi generasi instan ya 🤗

gue bingung baca postingan ini. udah 2 kali baca tetep nggak dapet benang merahnya, hmmm

Setuju banget nih sama pendapatnya abang yang satu ini!... Ngena banget...kata2 terakhirnya...
Jangan jadi generasi Instan... Yah mudah2an semua masukan ini bisa saya terima karena saya termasuk orang yang suka hal2 yang Instan heheh... Pasti akan saya pelajari dan pahami betul2 untuk kedepannya... thkas for sharing...

aku juga setuju sama kata2 itu, sebagian besar individu banyaknya yang suka ikut2an

Ikutan-ikutan sebagian dari proses pencarian :)

Jadi diri sendiri itu nyaman. Semua ada prosesnya, gak instan ya, Mas. Toh, mie instan aja ada proses masaknya..hehe

Salam kenal, Mas.
Beuh, name kita same..hehe

Tulisannya manteb kali,serasa ditabok nih buat nggak ngikut ikutan malas nulis#,tunjukdiri #pemalas #hehehe
Ok, semoga bisa nggak instan #eh,
Salam kenal ya

Emang yang instant2 emang enak, tapi sayangnya gak bisa menikmati bagian yang paling enaknya, yaitu proses.
Hehe..

Padahal yg berproses itu yg lbh enak deh

Proses tidak akan pernah menghianati sebuah hasil.

Saya setuju, mahasiswa generasi sekarang berbeda dengan generasi dulu yang lebih banyak "perjuangan dan rela bersusah payah".

Mungkin penyebabnya adalah terlalu banyak makan mie instan

Demi Tuhan Yang Menciptakan Akal. Atas Nama Ilmu Pengetahuan Berkomentarlah Sesuai Apa Yang Kamu Ketahui.
EmoticonEmoticon